Tantangan Kompetensi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Pernah dengar soal The Gazelle Project? Itu salah satu strategi Amazon dalam menjalin kerja sama dengan penerbit buku yang tertarik untuk berinvestasi di platform belanja online terbesar dunia tersebut. Sejak tahun 1994, Amazon selalu memperkenalkan konsep demi konsep komunikasi bisnis sebagai bagian dari strategi mereka.

Inisiatornya? Tentu saja sang pendiri, Jeff Bezos.

Pria berkepala plontos ini memilih kata Gazelle, hewan bertanduk yang gesit berlari untuk memberi judul project mereka. Tentu bukan tanpa alasan, rupanya Bezos ingin Amazon bisa mendekati perusahaan-perusahaan penerbit buku selayaknya “a cheetah would pursue a sickly gazelle”. Bahkan, dalam tayangan National Geographic sudah sering kita lihat bagaimana pertarungan antara cheetah dan gazelle yang begitu sengit dan membuat mata enggan berkedip saat menontonnya.

Dielaborasi lebih jauh oleh Business Insider, analogi itu menggambarkan bagaimana cheetah bisa berlari dengan kecepatan mencapai 112 kilometer per jam, jauh lebih cepat dibandingkan dengan mobil Ferrari Enzo sekalipun. Benzo menangkap analogi cara cheetah mengejar mangsanya serupa dengan bagaimana Amazon seharusnya mendekati klien potensial.

Komunikasi Bisnis di Era Digital

Tidak salah lagi, apa yang diluncurkan Jeff Bezos – sama halnya seperti seluruh CEO perusahaan raksasa lain di dunia – adalah cara mereka berkomunikasi di era digital. Sebenarnya mudah saja mengatakan pada tim dalam Amazon untuk mendekati klien potensial dengan cara tertentu, namun persepsi di antara begitu banyak pegawai Amazon bisa jadi berbeda.

Itu sebabnya Bezos menetapkan sebuah judul yang menarik dan mudah diingat. Apakah ini hanya menguntungkan untuk Amazon saja? Tentu tidak. Klien pun bisa mengerti lewat persepsi yang sama tersebut. Dengan cara ini, komunikasi di bidang bisnis telah terbentuk.

Lebih jauh, sebuah konsensus akan terbentuk dan melancarkan komunikasi pihak-pihak yang terlibat. Lewat seluruh terobosannya, tak heran jika Amazon selalu memasang target untuk menjadi “Godfather”, dengan memberikan penawaran yang sulit ditolak oleh klien. Cerdas, bukan?

Lalu apa kaitannya dengan strategi komunikasi? Tentu sangat dekat. Terlebih di era digital dengan ragam tantangan yang jauh berbeda dibandingkan dengan era konvensional dahulu. Oleh karena itu, artikel kali ini akan fokus membahas komunikasi dalam konteks bisnis, lengkap dengan tantangannya.

Namun perlu digarisbawahi, era digital dengan segala kemudahan yang ditawarkannya bagaikan dua sisi mata uang. Jika ada kemudahan, tentu juga ada tantangan. Mari membedahnya lebih lanjut berikut ini.

Banyak Informasi, Banyak Persepsi

Tidak bisa dipungkiri bahwa era digital dengan lalu lintas informasi yang begitu cepat juga akan membuat orang terbuka dengan informasi baru, bahkan setiap detiknya. Namun sayangnya, tidak semua informasi yang diterima bersifat akurat dan penting. Batasan antara informasi penting dan hoax pun begitu tipis.

Memang tidak semua orang bisa dengan mudah termakan berita-berita bohong atau informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya. Namun lagi-lagi, hal ini tidak berlaku universal untuk semua orang. Masih banyak orang yang menelan mentah-mentah berita yang mereka terima dan – lebih parahnya lagi – menyebarluaskan tanpa memperhitungkan risikonya.

Sebagai konsekuensinya, banyaknya informasi bisa menimbulkan persepsi yang beragam hingga multitafsir. Mulai dari yang skala kecil hingga masif –bahkan bisa mengubah bagaimana informasi sebenarnya – hingga menjadi versi yang jauh berbeda akibat mispersepsi itu.

Lihat saja bagaimana media kerap kali memberitakan hal yang belum cover both side dan membuat mereka menarik kembali artikel tersebut, tentu disertai dengan permintaan maaf. Kredilitas tentu saja dipertanyakan. Apalagi media punya pengaruh yang cukup besar bagi publik.

Atau bagaimana akun-akun selebgram di Instagram bisa menjadi pusat perhatian hanya karena isu – yang seringnya negatif – melanda mereka. Akurasi dan konfirmasi ulang kerap menjadi prioritas nomor sekian.

Batasan Privasi Jadi Bias

Satu lagi tantangan komunikasi bisnis yang juga terjadi seiring dengan perkembangan era digital adalah batasan privasi setiap orang atau entitas. Atau bahkan, data personal bisa diperjualbelikan dengan mudah. Tujuannya tentu untuk penipuan atau bahkan manipulasi opini.

Contoh nyatanya? Lihat saja bagaimana Mark Zuckerberg pendiri Facebook sampai harus diberondong pertanyaan oleh Senator dan pihak Kongres Amerika Serikat akibat megaskandal perusahaannya dengan Cambridge Analytica awal 2018 lalu.

Tak ada yang menyangka bahwa Facebook – platform sosial yang masih menjadi favorit banyak orang hingga kini – telah terlibat dalam jual beli data hingga 87 juta data akun pada beberapa tahun terakhir. Bahkan aktor-aktor yang terlibat juga tidak main-main.

Ada Cambridge Analytica, perusahaan analisis data dengan track record bisa membantu menyediakan hasil riset dari orang-orang yang diinginkan klien. Juga ada seorang professor asal University of Cambridge yang ternyata bisa “menyadap” data personal seseorang lewat kuis yang terkesan sepele, familiar, dan jauh dari kata berbahaya.

Ke mana semua itu bermuara?

Mega skandal ini menjadi besar karena ada kaitannya dengan penggiringan opini politik dalam bursa pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 lalu antara Donald Trump dan Hillary Clinton. Zuckerberg harus panas dingin menjawab pertanyaan demi pertanyaan tentang keterlibatan Facebook, kaintannya lagi-lagi dengan interaksi di Facebook yang sanggup mengubah opini politik warga dengan hak pilih.

Menarik garis lurus dari mega skandal tersebut, bukan tidak mungkin jika komunikasi di era digital ini – lewat platform apapun – bisa menjadi saluran yang tidak aman, bahkan dijadikan “komoditas” oleh pihak tertentu. Sebuah tantangan yang begitu nyata dan bisa terjadi pada siapa saja. Terbukti dalam skandal tersebut, 1 juta data yang bocor di antaranya adalah pengguna Facebook asal Indonesia.

Generation Gap

Transisi generasi di usia produktif sedang terjadi. Istilah generasi milenial telah akrab di telinga kita, seiring dengan mulai menjamurnya peran mereka dalam bisnis di era saat ini.

Karl Mannheim dalam tulisannya yang berjudul “The Problem of Generation” pernah memaparkan teori generasi X, Y atau milenial, hingga Z. Generasi Y yang lahir dalam rentang waktu tahun 1980 hingga 1997 punya kemiripan karakter.

Kemudian, seorang jurnalis USA Today bernama Bruce Horovitz juga pernah menulis artikel berjudul “After Gen X, Millennials, what should next generation be?”. Dalam artikelnya, Horovitz memaparkan tentang generasi selanjutnya, yaitu Generasi Z. Dideskripsikan bahwa generasi ini menjadi wadah mereka yang lahir di rentang tahun 1995 hingga 2014.

Asumsikan saja generasi Z yang paling awal, saat ini telah menginjak usia 23 tahun. Telah matang, punya hak pilih, atau bahkan telah terjun dalam dunia bisnis atau pekerjaan tertentu.

Menariknya, hal ini akan menciptakan generation gap terutama dalam hal komunikasi antara satu dan lainnya. Karakter mereka yang berasal dari Generasi X, Y, dan Z sangat berbeda. Generasi Z mungkin lebih berani menabrak koridor kesantunan yang konvensional dan lebih outspoken.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang masih memiliki rasa sungkan atau kurang gamblang dalam menyampaikan kritik. Namun di sisi lain, tentu generasi Z yang terlahir saat internet sudah mulai diperkenalkan, lebih melek dengan dunia digital atau tech-savvy, juga banyak kelebihan lain yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya.

Benang merahnya adalah setiap generasi punya kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Hanya saja, cara berkomunikasinya juga sangat berbeda. Ini adalah tantangan nyata karena tentu bukan perkara mudah untuk menyambung transisi dari tiga generasi dengan perbedaan mencolok ini.

Solusinya, tentu perusahaan yang bisa menerima perbedaan dengan tangan terbuka akan mencari tahu bagaimana cara komunikasi yang tepat. Tunggu dulu, tepat mungkin kurang bisa diandalkan. Efektif akan jauh lebih pas. Pemimpin yang bijak akan mencari tahu bagaimana bisa berkomunikasi secara efektif dan menyiasati tantangan yang tidak bisa dihindari ini.

Ketiga tantangan komunikasi bisnis di era digital ini bisa jadi hanya sedikit contoh dari apa yang benar-benar terjadi saat ini. Ditambah lagi, situasinya akan terus bergerak secara dinamis seiring dengan perkembangan era digital hingga beberapa tahun ke depan. Any feedback? Feel free to comment below!

Bagikan kebaikan kepada teman-teman Anda

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pelatihan yang disesuaikan khusus tim di perusahaan Anda
ketahui lebih lanjut

Scroll to Top
Bantuan? Chat via WA